Showing posts with label Karbon. Show all posts
Showing posts with label Karbon. Show all posts

Sunday, December 8, 2024

Ngerinya Korupsi di Kehutanan: Dulu Suap, Kini Manipulasi Regulasi

Direktorat Monitoring KPK Sulistyanto menyoroti korupsi dan Tata Kelola Sumber Daya Alam (SDA), khususnya kehutanan, dan bagaimana tata kelola lingkungan dipengaruhi oleh aktor-aktor korupsi. Dia berpendapat pola korupsi di sektor kehutanan bergeser dari suap langsung menuju penguasaan oleh aktor-aktor yang memegang kendali atas keputusan penting.

Pendapat itu diungkapkan Sulistyanto pada diskusi bertajuk "Korupsi dan Tata Kelola Hutan Indonesia" di Jakarta, Sabtu (23/11/2024). Dia menegaskan korupsi di sektor kehutanan awalnya dominan dalam bentuk suap, tetapi kini melibatkan manipulasi regulasi oleh aktor-aktor yang memiliki posisi sebagai pengambil keputusan dan pengendali.

"Kita tahu kasus korupsi di kehutanan melibatkan aktor yang mempunyai kepentingan, ternyata aktor terbanyak para pelaku usaha industri pupuk kertas master lainnya, kami ini memenjarakan pejabat yang melalukan korupsi tapi karena jaringan itu tetap eksis maka tetap eksis," kata Sulistyanto.

Dalam pemaparan diskusi, Sulistyanto mengungkapkan, data menunjukkan bahwa satu kasus korupsi di sektor kehutanan di Riau melibatkan jaringan korupsi sebanyak 201 aktor. Dia menjelaskan bahwa banyak pengeluaran yang tidak semestinya terjadi akibat praktik korupsi yang melibatkan jaringan luas.

"Hubungan informal itu memiliki pengaruh besar dalam jaringan pembenahan sistem 70%, pembiayaan formal, biasanya biaya hubungan baik ini memfasilitasi korupsi itu bekerja pada jaringan itu," kata Sulistyanto.


Kok Bisa Tambang di TN?

Sementara itu, Prof. Bambang Hero S, Guru Besar IPB dan Direktur Regional Forest Fire Management Resource Center Southeast Asia, menyoroti peran para aktor di lapangan yang secara terang-terangan memanfaatkan ketidakjelasan status kawasan hutan. Ketidakjelasan status itu dibiarkan berlarut-larut, sehingga membuka peluang bagi manipulasi koruptor. Bahkan, dalam beberapa kasus, tambang ilegal ditemukan di taman nasional yang seharusnya dilindungi.

Itu terjadi karena regulasi alih fungsi lahan yang seharusnya dijalankan malah diabaikan, menjadikan aktivitas tersebut ilegal. Bambang juga menambahkan bahwa ketidakaktifan regulator sering kali menghambat tugas tim ahli dan penegak hukum dalam mengatasi persoalan ini.

"Kawasan hutan pertama adalah ketidakjelasan status yang dibiarkan dan berlarut-larut, kawasan hutan fisiknya semak belukar, alang-alang, tetap disebut sebagai kawasan hutan, meskipun kemudian tidak ada secara fisik pohon di sana sehingga di lapangan semua ini dibuat kabur. Misalnya, di beberapa lokasi justru tambang itu adanya di taman nasional, jadi mestinya yang seperti itu tidak terjadi," kata Bambang.

"Keterlibatan pejabat dari kementerian terkait bagi yg sudah terbiasa pemanfaatan hutan itu simple sekali, contoh menanam lahan dengan kawasan hutan itu harus ada alih fungsi jika kalian tanam tidak ada alih fungsi makan bersifat illegal," Bambang menambahkan.


Sumber :

https://travel.detik.com/travel-news/d-7655420/ngerinya-korupsi-di-kehutanan-dulu-suap-kini-manipulasi-regulasi.

Monday, December 2, 2024

Negara Berkembang Luapkan Kekesalan pada Negara Maju di COP29

Dua hari jelang penutupan COP29 belum ada tanda-tanda delegasi menyepakati isi perundingan. Dua isu paling menonjol yakni target baru anggaran iklim (NCQG) dan aturan pasar karbon dunia terus jadi bahan perdebatan di meja perundingan.

Tiga blok negara peserta yang mewakili negara berkembang plus Cina, negara Afrika dan negara paling kurang berkembang menyampaikan kekesalan karena negara kaya dianggap sengaja mengadang negosiasi dengan cara tak merespon jalannya perundingan.

Tuntutan pendanaan sebesar 1,3 triliun dolar AS yang disampaikan oleh kelompok negara-negara ini sama sekali tak ditanggapi.

"Konfirmasi soal jumlah angka tidak ada. Tanggapan apa kek, pergerakan apa pun juga tidak ada. Benar-benar bikin frustrasi dan mengecewakan," kecam Ali Mohammed, diplomat iklim Kenya yang yang mewakili blok negara Afrika.

"(Meski prosesnya lambat) jangan sampai kita biarkan situasi ini dipakai sebagai cara negara maju untuk lepas tangan dari tanggung jawabnya," tukas Diego Pacheco, negosiator Bolivia yang menjadi juru bicara blok negara paling kurang berkembang.

Negara berkembang melihat bahwa menyediakan anggaran perubahan iklim untuk proyek-proyek mendesak di negara berkembang adalah kewajiban negara maju. Tanggung jawab itu muncul karena negara maju dianggap sebagai emiter yakni penyumbang buangan karbon terbesar di dunia yang kemudian menyebabkan perubahan iklim.


Memperkecil perbedaan

Lambat dan alotnya isu keuangan ini sudah diperkirakan sejak awal. Blok negara maju berkeberatan dengan beban pendanaan iklim karena berbagai alasan.

Misalnya, proyek untuk produksi listrik dari tenaga surya yang diajukan berbagai negara. Proyek serupa dianggap sudah memenuhi kriteria industri dan bisnis sehingga tak layak diperhitungkan sebagai proyek berbasis bantuan (grant).

Sebaliknya, jika diberikan dalam bentuk pinjaman komersial yang berbunga normal, negara berkembang kesulitan mengembalikan.

"Kami ingin menghindari utang dikategorikan sebagai dana iklim. Tuntutan kita adalah bantuan yang tidak memberatkan ketahanan fiskal negara anggota. Tidak memberi beban bunga dan cicilan. Bangladesh jelas tidak akan mampu kalau harus demikian," kata Syeda Rizwana Hasan, Kepala Delegasi Bangladesh kepada jurnalis di arena COP29.

Meski demikian Rizwana juga mengatakan masih terlalu dini mengatakan negosiasi akan buntu. Kedua pihak, negara maju dan berkembang, menurutnya saat ini sama-sama sedang berupaya memperkecil jurang perbedaan.

Penutupan COP29 sudah dijadwalkan pada Jumat (22/11) namun bisa saja konferensi diperpanjang melebihi periode tersebut.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20241121144512-641-1169158/negara-berkembang-luapkan-kekesalan-pada-negara-maju-di-cop29#goog_rewarded.

Friday, November 29, 2024

Inovasi Teknologi Konversi CO2 Menjadi Produk Kimia Bernilai Tinggi

Konversi karbon dioksida (CO2) menjadi produk kimia bernilai melalui reduksi elektrokimia langsung (CO2RR) telah muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi dampak pemanasan global sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya signifikan telah dilakukan untuk mengembangkan sistem CO2RR yang efisien dan efektif. Namun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah rendahnya efisiensi faradaik akibat adanya reaksi kompetitif, yaitu evolusi hidrogen (HER).

Untuk mengatasi kendala tersebut, peneliti di UNAIR bekerjasama dengan peneliti dari Universitas Indonesia untuk mengulas perkembangan terbaru dalam teknologi CO2RR, dengan fokus pada strategi untuk menekan terjadinya HER yang bersaing dalam proses konversi CO2. Pada awalnya, mekanisme umum dari CO2RR, HER, dan bagaimana kedua reaksi tersebut saling bersaing dijelaskan secara mendetail. 

Setelah itu, berbagai strategi untuk mengurangi dominasi HER dalam sistem CO2RR dipaparkan, termasuk penggunaan jenis elektrokatalis tertentu, pemanfaatan pengikat polimerik, pemilihan jenis elektrolit yang tepat, serta penggunaan sel elektroda difusi gas (GDE). 

Selain itu, pendekatan-pendekatan inovatif lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi proses konversi CO2 juga mendapat sorotan. Review ini diakhiri dengan rangkuman mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan teknologi ini di masa depan, serta prospek untuk pengembangan sistem yang lebih efisien dalam memanfaatkan dan mengonversi CO2. 

Dengan teknologi yang terus berkembang, pengurangan dampak lingkungan dan peningkatan pemanfaatan CO2 sebagai bahan baku kimia dapat semakin terwujud. Strategi untuk menekan HER yang kompetitif akan memainkan peran penting dalam mewujudkan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan di masa depan.


Penulis: Prastika Krisma Jiwanti, S.Si., M.Sc.Eng., Ph.D.


Sumber :

https://unair.ac.id/inovasi-teknologi-konversi-co2-menjadi-produk-kimia-bernilai-tinggi/

RI Mau Tekan Emisi Karbon, Pakai Cara Ini


Pemerintah tengah mendorong pengurangan emisi untuk mencapai net zero emission (NZE). Untuk mencapai hal tersebut, terdapat beberapa prinsip utama yakni peningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT), pengurangan energi fosil, penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi, peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri, dan pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS).

Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S Achmad mengatakan, dalam upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 dan mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, pemerintah terus mendorong penerapan pembangunan berkelanjutan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.

"Proses transformasi perekonomian Indonesia menjadi ekonomi hijau yang berkelanjutan harus menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), Paris Agreement, Visi Indonesia Emas 2045, serta mampu mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060," ungkapnya, dalam keterangan tertulis, Kamis (21/11/2024).

Terkait CCS, Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menetapan 4 SNI untuk mendukung pengurangan emisi. Pertama, SNI ISO 27914:2017 penangkapan, transportasi dan penyimpanan geologis karbon dioksida-penyimpanan geologis (ISO 27914:2017 Carbon dioxide capture, transportation and geological storage - Geological storage)

Kedua, SNI ISO/TR 27915:2017 penangkapan, transportasi dan penyimpanan geologis karbon dioksida-kuantifikasi dan verifikasi (ISO/TR 27915:2017 Carbon dioxide capture, transportation and geological storage - Quantification and verification)

Ketiga, SNI ISO/TR 27918:2018 manajemen risiko daur hidup proyek penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida terintegrasi (ISO/TR 27918:2018 Lifecycle risk management for integrated CCS projects). Dan keempat, SNI ISO/TR 27923:2022 penangkapan, transportasi dan penyimpanan geologis karbon dioksida - operasi injeksi, infrastruktur dan monitoring (ISO/TR 27923:2022 Carbon capture, transportation and geological storage - Injection operations, infrastructure and monitoring).

Hingga 31 Oktober 2024, BSN telah menetapkan 15.432 SNI yang mendukung berbagai sektor strategis, termasuk transformasi ekonomi, keberlanjutan dan daya saing nasional.

Sementara, dalam mendukung program Makan Siang Bergizi Gratis yang diinisiasi Presiden Prabowo, BSN terus membina pelaku UMKM dan mengedukasi masyarakat terkait pentingnya standar mutu dan keamanan pangan. Hingga Oktober 2024, sebanyak 775.763 pelaku UMKM dengan 910.181 produk telah memperoleh tanda SNI Bina UMK, memberikan kemudahan akses pasar dan mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat.


Sumber :

https://finance.detik.com/ekonomi-hijau/d-7649859/ri-mau-tekan-emisi-karbon-pakai-cara-ini.

Thursday, November 28, 2024

Indonesia Punya Potensi Daya Tampung Karbon Terbesar Dunia

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi daya tampung karbon atau CO2 storage terbesar di dunia. Direktur ESDM APINDO Eka Satria mengatakan salah satu cara penyerapan karbon bisa dilakukan secara alami dengan hutan.

"Ternyata Indonesia mempunyai potensi C20 storage one of the biggest. Dari apa? Pertama dari natural solutions, hutan kita nomor dua (terluas) setelah Amazon," katanya dalam Forum Diskusi CNN "Strategi Investasi Membangun Ekonomi Berkelanjutan" di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Rabu (20/11).

Tak hanya itu, Eka menyebut Indonesia juga memiliki potensi penyimpanan C02 hingga 500 gigaton dalam depleted reservoir atau sumur kering minyak dan gas bumi (migas).

Depleted reservoir adalah reservoir migas yang telah mengalami penurunan tekanan reservoir atau cadangan hidrokarbon akibat produksi migas serta tidak dapat diproduksikan lagi secara ekonomis dengan teknologi yang ada saat ini.

Menurutnya, potensi tersebut sudah disampaikan Hashim Djojohadikusumo dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP) ke-29 di Azerbaijan beberapa waktu lalu.

"Pak Hashim waktu di COP menawarkan bahwa Indonesia bisa simpan CO2, kita banyak depleted resorvir, ada sekitar 500 gigaton potensi CO2 storage," katanya.

Sebelumnya, Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Idris Froyoto Sihite mengatakan Indonesia memiliki total potensi daya tampung karbon sebesar 577,62 gigaton yang terdiri dari 572,77 giga ton CO2 di saline aquifer serta 4,85 giga ton CO2 di sumur kering minyak dan gas.

Dengan potensi itu, ia mengatakan Indonesia akan mendukung penerapan Carbon Capture Storage (CCS).

"Implementasi CCS dan CCUS (Carbon Capture Utilization and Storage) sangat bergantung terhadap kapasitas penyimpanan dan Indonesia sangat memiliki potensi besar terhadap itu," kata Idris, dikutip Antara.

"Kami percaya potensi kapasitas penyimpanan karbon di Indonesia dapat mendukung upaya menjadi CCS hub di ASEAN," sambungnya.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20241120132921-92-1168687/indonesia-punya-potensi-daya-tampung-karbon-terbesar-dunia#goog_rewarded

Thursday, November 21, 2024

Argentina Cabut dari Negosiasi Iklim COP29, AS Diduga Akan Menyusul


Argentina memutuskan mundur dari seluruh kegiatan negosiasi perubahan iklim di arena COP29, Baku, Azerbaijan.

Argentina di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei sejak awal mengatakan tidak mempercayai konsep perubahan iklim sebagai dampak industrialisasi dan tindakan manusia. Menurut Presiden Milei, perubahan iklim adalah fenomena cuaca biasa.

Mundurnya Argentina menimbulkan kecaman termasuk dari pegiat asal negara itu di COP29.

"Pemerintah Argentina mundur dari negosiasi COP29, bukan perjanjiannya. Jadi, ini tindakan simbolis saja. Yang terjadi adalah menyingkirkan negara ini dari pembicaraan penting tentang pendanaan iklim," kata Anabella Rosemberg penasihat senior di Climate Action Network International, Kamis (14/11).

"Sulit dipahami bagaimana negara yang rentan terhadap krisis iklim seperti Argentina justru mundur dari dukungan finansial yang dinegosiasikan di COP29 ini," lanjut dia.

Mundurnya Argentina meninggalkan pertanyaan apakah negara lain akan mengikuti jejak mereka.

Pandangan ditujukan ke arah Amerika Serikat yang baru memilih presiden awal bulan ini. Donald Trump yang terpilih untuk periode keduanya dikenal sebagai sosok yang juga anti-iklim dan dipandang anti-sains.

Delegasi AS di arena COP29 sudah menyatakan bahwa mereka bersiap untuk mundur dari arena diplomasi karena arah kebijakan Trump ini, sebagaimana sudah terjadi pada periode pertama jabatannya tahun 2017-2020. Yang jelas, dari pengalaman sebelumnya di bawah Trump anggaran iklim untuk dunia berkurang drastis.

"Saat ditinggalkan oleh pemerintah terdahulu anggaran yang dikeluarkan (AS) sekitar USD2 miliar. Waktu Presiden Biden masuk, sampai dengan akhir masa jabatannya anggarannya USD11 miliar, kami yakin target ini akan tercapai di 2024," kata Ali Zaid, penasehat iklim Presiden Biden kepada wartawan di arena COP29 (13/11).

Anggaran iklim AS sangat penting bagi dunia, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia. AS mengeluarkan anggaran tersebut untuk kerjasama internasional dan bilateral.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20241114155107-641-1166657/argentina-cabut-dari-negosiasi-iklim-cop29-as-diduga-akan-menyusul#goog_rewarded.

Wednesday, November 20, 2024

Pertamina Manfaatkan Proyek Carbon Market untuk Kejar Target NZE


PT Pertamina (Persero) mulai membuka peluang bisnis karbon dalam mengadaptasi semangat transisi energi untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060.

CEO Pertamina New and Renewable Energy, John Anis dalam sesi panel di COP 29, Baku, Azerbaijan mengatakan Pertamina punya sejumlah strategi untuk pengembangan bisnis karbon.

Dalam paparannya, John menyoroti potensi besar dari perdagangan karbon bagi perusahaan energi dan manfaatnya yang signifikan bagi lingkungan.

Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar. Salah satunya melalui solusi berbasis teknologi energi terbarukan serta proyek konservasi mangrove yang dilakukan Pertamina bekerja sama dengan mitra strategis.

"Kami memiliki dua pendekatan utama dalam perdagangan karbon: yang pertama adalah solusi berbasis teknologi, seperti energi terbarukan yang telah kami kembangkan. Di sisi lain, ada solusi berbasis alam, di mana kami berkolaborasi dengan mitra strategis dalam berbagai proyek, seperti konservasi mangrove, yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk diformulasikan ke dalam bentuk kredit karbon," kata John, dalam keterangan tertulis, Rabu (13/11/2024).

Dengan permintaan yang terus meningkat dan proyeksi harga karbon yang semakin kompetitif di pasar global, termasuk Indonesia, John menekankan bahwa potensi perdagangan karbon di masa depan sangat menjanjikan.

"Pasar karbon di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama ketika pemerintah mulai memperkenalkan mekanisme penyimpanan karbon secara lebih luas di tahun-tahun mendatang," kata John.

PNRE juga menunjukkan komitmennya dalam mengurangi emisi domestik melalui berbagai inisiatif, seperti efisiensi energi di seluruh unit operasionalnya, eliminasi rutinitas zero flaring, dan penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Utilization and Storage/CCUS). Menurut John, ini bukan hanya tentang memenuhi target, tetapi bagaimana Pertamina bisa menciptakan bisnis yang selaras dengan masa depan rendah emisi dan mendukung transisi energi yang berkelanjutan.

Dalam kolaborasinya dengan mitra internasional seperti ExxonMobil dan perusahaan Jepang, PNRE juga fokus pada pengembangan proyek penyimpanan CO2, dengan memanfaatkan reservoir minyak dan gas yang sudah tidak aktif di Indonesia. John menjelaskan, potensi penyimpanan karbon ini mencapai hingga 5 gigaton CO2, yang diharapkan dapat memberikan kontribusi besar bagi pengurangan emisi Indonesia di masa depan.

John juga menyoroti pentingnya kontribusi perusahaan dalam mendukung berbagai acara net zero melalui kompensasi kredit karbon dan mengadopsi sertifikasi net zero untuk kegiatan internal.

"Generasi muda sekarang semakin peduli dan ingin berkontribusi dalam pengelolaan risiko lingkungan. Langkah ini membuktikan bahwa Pertamina tidak hanya berfokus pada keberlanjutan bisnis, tetapi juga pada masa depan yang lebih hijau," kata John.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pertamina menunjukkan posisinya sebagai pemimpin di industri energi yang berkomitmen pada bisnis berkelanjutan dan berperan aktif dalam upaya global mengurangi emisi karbon.

Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.


Sumber :

https://finance.detik.com/ekonomi-hijau/d-7636226/pertamina-manfaatkan-proyek-carbon-market-untuk-kejar-target-nze.

Tuesday, November 19, 2024

Indonesia Telah Lampaui Kouta Target Deforestasi



Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan Nadia Hadad mengungkapkan, kuota deforestasi Indonesia telah terlampaui. Berdasarkan dokumen Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, deforestasi Indonesia sampai 2019 sudah mencapai 4,8 juta hektare.  

Di satu sisi, target pengurangan laju deforestasi dalam komitmen FOLU Net Sink 2030 adalah 4,22 juta hektare hingga 2030. 

Artinya, kuota deforestasi Indonesia sudah terlampaui atau minus 577.000 hektare.  Padahal, upaya restorasi dan rehabilitasi lahan membutuhkan waktu sangat lama. 

"Dan seringkali tidak mampu mengembalikan ekosistem ke kondisi semula, seperti ekosistem gambut dan mangrove," kata Nadia, dikutip dari siaran pers, Rabu (13/11/2024). 

Nadia menjelaskan untuk  mencapai target iklim dalam Nationally Determined Contribution (NDC), pencegahan deforestasi harus diutamakan dengan menerapkan kebijakan yang tepat.

"Mengandalkan restorasi dan rehabilitasi saja akan mempersulit pencapaian komitmen iklim Indonesia. Cegah dulu, baru restorasi," kata Nadia. 

Untuk mencegah dan mengembalikan hutan yang hilang, Nadia mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera bergabung dengan Kemitraan Forest and Climate Leaders (FLCP).

Nadia mengungkapkan, FLCP merupakan inisiatif untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya hutan pada tahun 2030. 

"Padahal dalam pernyataan-pernyataan para kepala dan pejabat negara dalam panel di COP29 beberapa kali menyebutkan Indonesia sebagai champions dalam inisiatif FOLU Net Sink 2030," kata Nadia. 

Bergabungnya Indonesia dalam kemitraan dapat memastikan mobilisasi pendanaan dari negara-negara maju kepada negara-negara berkembang dan pemilik hutan tropis untuk melindungi hutan. 

Sehingga hal tersebut dapat mencapai target iklim global yang tercantum dalam Perjanjian Paris.


Sumber :

https://lestari.kompas.com/read/2024/11/15/110000086/indonesia-telah-lampaui-kouta-target-deforestasi.

Sunday, November 17, 2024

Disebut Solusi Palsu, Biaya Penangkapan Karbon Lebih Mahal dari Pembangkit EBT

Center of Economic and Law Studies (Celios) menyatakan teknologi penangkapan karbon, yang tengah digencarkan pemerintah Indonesia, merupakan solusi palsu dalam transisi energi. Pengembangan teknologi  Carbon Capture Storage (CCS) bahkan lebih mahal dibandingkan membangun pembangkit energi baru terbarukan.  

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengatakan teknologi CCS merupakan solusi palsu karena hanya akan membuat perusahaan untuk tetap menggunakan energi fosil.  Padahal seharusnya pemerintah mendorong industri untuk menggunakan energi bersih. 

Selain itu, investasi yang dikeluarkan untuk pembangunan CCS/CCUS jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan investasi di EBT, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia. Berdasarkan hasil perhitungan Celios, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan CCUS akan membutuhkan investasi lebih dari Rp 30,2 juta per kilowatt hour (KWh) pada 2020 dan lebih dari Rp 22 juta /KWh pada 2050. 

Nilai investasi tersebut jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan investasi energi terbarukan seperti PLTS skala utilitas maupun industri yang hanya membutuhkan Rp 6 juta/KWh pada tahun 2050. 

"Bukti CCUS secara keekonomian tidak layak," ujarnya dalam diskusi publik, di Jakarta, Rabu (13/11). 


Rawan Bocor 

Selain itu, dia mengatakan, penggunaan CCS/CCUS juga dapat membahayakan masyarakat akibat potensi kebocoran pipa. Bhima mencontohkan kebocoran pipa gas CCS di Amerika setidaknya menyebabkan 40 orang dilarikan ke rumah sakit. 

Posisi Indonesia yang terletak di cincin api dunia atau ring of fire juga memperbesar risiko kebocoran gas karena rawan gempa. "Jadi kalau karbonnya ditaruh di bawah sini, ekstra mahal untuk menjaga biar dia nggak bocor, ini siapa yang menanggungnya," ucapnya. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sebelumnya, Arifin Tasrif, juga pernah menyatakan bahwa teknologi CCS mahal. 

"Rencana implementasi CCS/CCUS sekarang masih mahal, tapi memang harus kita coba. sesuatu kalau baru dicoba kan memang mahal," ujar Arifin dalam keterangan, Selasa (6/8). 

Arifin mencontohkan salah satu proyek yang berjalan yaitu di Pemurnian Gas Alam, Gundih Jawa Timur, membutuhkan biaya US$ 43-53 per ton CO2, dengan total 0,3 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi US$ 105 juta. Contoh lainnya yaitu produksi LNG Bintuni, Papua Barat sebesar US$ 33 per ton CO2 dengan total 2,5-3,3 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi sebesar US$ 948 juta. 

Kemudian Produksi LNG di Masela, NTT, US$ 26 per ton CO2 dengan total 3,5 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi sebesar US$ 1,4 miliar. Terakhir, Gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME), Tanjung Enim Sumatera Selatan, sebesar US$ 50-55 per ton CO2 dengan total 3 juta ton CO2 per tahun dan investasi injeksi mencapai US$ 1,6 miliar. 

Meski begitu, Arifin memastikan bahwa pemerintah tetap memiliki komitmen besar untuk mengimplementasikan teknologi CCS/CCUS. Teknologi ini diharapkan dapat memainkan peran kunci dalam menekan jejak karbon negara yang dikenal sebagai salah satu penghasil emisi terbesar di dunia.


Sumber 

https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/energi-baru/673463082ad28/disebut-solusi-palsu-biaya-penangkapan-karbon-lebih-mahal-dari-pembangkit-ebt

Saturday, November 16, 2024

Emisi Karbon Global Capai Rekor Tertinggi pada Tahun 2024

Emisi karbon global dari bahan bakar fosil telah mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024, demikian menurut laporan terbaru dari tim ilmuwan Global Carbon Project yang berbasis di Inggris.

Laporan bertajuk "Anggaran Karbon Global 2024" itu memproyeksikan emisi karbon dioksida (CO2) dari pembakaran dan penggunaan bahan bakar fosil sebesar 37,4 miliar ton, naik 0,8% dari tahun 2023.

Selain emisi dari penggunaan bahan bakar fosil, laporan tersebut juga mengungkap proyeksi emisi dari perubahan penggunaan lahan (seperti deforestasi) sebesar 4,2 miliar ton, sehingga total emisi CO2 diproyeksikan mencapai 41,6 miliar ton pada tahun 2024, meningkat dari 40,6 miliar ton pada tahun lalu.

Laporan ini muncul di tengah berlangsungnya KTT Iklim PBB COP29 di Baku, Azerbaijan, di mana negara-negara menegosiasikan cara untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015 dan mempercepat pengurangan emisi menuju "net zero" atau nol emisi karbon guna membatasi kenaikan suhu global.

"Waktu hampir habis untuk memenuhi target Perjanjian Paris - dan para pemimpin dunia yang bertemu di COP29 harus melakukan pengurangan emisi bahan bakar fosil secara cepat dan mendalam, agar kita memiliki peluang untuk tetap berada di bawah 2 derajat Celsius, dari tingkat pemanasan pra-industri," ujar Pierre Friedlingstein dari Exeter's Global Systems Institute, yang memimpin penelitian tersebut.


Emisi kembali meningkat setelah satu dekade stagnan

Sementara emisi CO2 dari bahan bakar fosil meningkat dalam 10 tahun terakhir, emisi CO2 dari perubahan penggunaan lahan justru rata-rata mengalami penurunan, sehingga menjaga total emisi relatif stabil selama periode itu, kata laporan tersebut.

Namun tahun ini, emisi karbon dari bahan bakar fosil dan perubahan penggunaan lahan diperkirakan akan meningkat. Hal ini sebagian disebabkan oleh kekeringan, dan emisi dari deforestasi serta kebakaran hutan yang dipicu oleh pola cuaca El Nino pada 2023-2024.

Dengan lebih dari 40 miliar ton CO2 yang dilepaskan setiap tahunnya, tingkat karbon di atmosfer terus meningkat, dan itu mendorong pemanasan global yang berbahaya.

Tahun 2024 juga diprediksi akan jadi tahun terpanas yang pernah tercatat, siap melampaui rekor suhu panas pada 2023, dengan beberapa bulan berturut-turut mencatatkan suhu lebih dari 1,5 derajat Celsius.

Dengan tingkat emisi saat ini, 120 ilmuwan yang berkontribusi dalam laporan Anggaran Karbon Global tersebut memperkirakan kemungkinan kenaikan suhu global melebihi 1,5 derajat Celsius dalam waktu sekitar enam tahun.

Pada 2024, peristiwa cuaca ekstrem terkait pemanasan global, termasuk gelombang panas yang mematikan, banjir besar, badai tropis, kebakaran hutan, dan kekeringan ekstrem, telah menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi manusia.

"Dampak perubahan iklim menjadi semakin dramatis, tapi kami masih belum melihat tanda-tanda bahwa pembakaran bahan bakar fosil ini telah mencapai puncaknya," kata Friedlingstein.


Meski emisi meningkat, upaya iklim membuahkan hasil

Corinne Le Quere, Royal Society Research Professor di Exeter University's School of Environmental Sciences, mengatakan data terbaru juga menunjukkan bukti adanya "aksi iklim yang efektif dan meluas."

"Penetrasi energi terbarukan dan mobil listrik yang terus meningkat dalam menggantikan bahan bakar fosil, serta penurunan emisi deforestasi dalam beberapa dekade terakhir" telah terkonfirmasi untuk pertama kalinya, ujarnya.

"Ada banyak tanda-tanda kemajuan positif di tingkat negara, dan ada keyakinan bahwa puncak emisi fosil CO2 global semakin dekat, tetapi puncak global itu masih tetap sulit dipahami," kata Glen Peters, dari Pusat Penelitian Iklim Internasional CICERO di Oslo.

Para peneliti merujuk pada 22 negara, termasuk banyak negara di Eropa, Amerika Serikat dan Inggris, di mana emisi bahan bakar fosil di wilayah itu telah menurun selama satu dekade terakhir, bahkan ekonomi mereka semakin tumbuh.

"Kemajuan di semua negara itu perlu dipercepat untuk menurunkan emisi global menuju nol emisi karbon," kata Peters.


Sumber 

https://news.detik.com/dw/d-7638696/emisi-karbon-global-capai-rekor-tertinggi-pada-tahun-2024.

Thursday, November 14, 2024

Hashim Bawa Pesan Prabowo untuk Dunia: Ekonomi yang Hijau dan Inklusif

Sejumlah kepala negara dan pemerintahan menyampaikan pernyataan nasional di COP29 hari ini di Baku, Azerbaijan, Selasa (12/11/24). Hashim Djojohadikusumo menjadi wakil Indonesia dalam menyampaikan pernyataan nasional mewakili Presiden Prabowo Subianto yang tengah dalam kegiatan internasional lainnya.

Utusan Khusus Presiden Bidang Perubahan Iklim tersebut menyampaikan bahwa Indonesia akan terus meningkatkan aksi iklimnya sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan inklusif untuk masyarakat.

"Presiden Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih dari 8% per tahun sekaligus memastikan pembangunan yang hijau, tangguh, dan inklusif bagi seluruh rakyat kami." kata Hashim di Plenary Hall Caspian, Baku Stadium.

Hashim menyampaikan, visi pertumbuhan ekonomi 8% tersebut akan menyertakan ambisi Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca menuju nol pada tahun 2060 dan menghindari satu miliar ton emisi karbon.

Dalam pidatonya yang kurang dari tiga menit, Hashim menjelaskan kepada para wakil pemerintahan yang hadir, bahwa Indonesia berniat membangun 75% kapasitas pembangkit listrik baru yang bersumber dari energi bersih dalam 15 tahun ke depan. Hal ini menjadi salah satu bukti keseriusan Indonesia meninggalkan energi fosil secara bertahap.

Selain itu, Indonesia juga akan membangun 70.000 km jaringan transmisi cerdas untuk mentransmisikan energi ke seluruh pulau utama dan terpadat di Indonesia.

Transmisi cerdas penting karena energi terbarukan sering kali tidak stabil, seperti produksi tenaga surya yang tergantung cuaca. Jaringan transmisi cerdas akan membantu mengatasi masalah ini dengan menyesuaikan aliran daya secara otomatis dan mengarahkan energi ke area yang paling membutuhkan, menjaga keseimbangan dan keandalan sistem energi yang lebih ramah lingkungan.

"Indonesia juga akan mengembangkan jaringan cerdas hijau, menambahkan 42 gigawatt tenaga angin dan matahari, melipatgandakan kapasitas energi menjadi total 75 gigawatt." kata Hashim.

Hashim bilang, energi bersih yang terjangkau akan disediakan untuk mempercepat pertumbuhan, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, memastikan ketahanan pangan, dan menghilangkan kemiskinan.

Selain itu, pemerintah juga akan merehabilitasi lebih dari 12 juta hektar hutan yang rusak parah dari waktu ke waktu. Termasuk merevitalisasi lahan yang rusak untuk meningkatkan produksi pangan, melindungi lautan, dan memberdayakan masyarakat lokal demi ketahanan iklim dan penciptaan lapangan kerja berkelanjutan yang berkualitas.

"Kami perlu memobilisasi sumber daya global dalam hal teknologi, keuangan, dan investasi, membentuk front persatuan untuk memerangi pemanasan global dan merebut kembali hak umat manusia untuk bertahan hidup." kata Hashim.

Tak lupa, Hashim juga menyampaikan langkah Indonesia dalam perdagangan karbon. Indonesia memiliki potensi besar dalam perdagangan karbon, didukung oleh kekayaan sumber daya alam yang signifikan.

"Kami juga berkomitmen untuk mengembangkan pasar karbon yang kuat, dimulai dengan mengoptimalkan 557 juta ton kredit karbon terverifikasi di Indonesia. Kita harus bekerja sama untuk menyediakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang." tutupnya.


Sumber :

https://finance.detik.com/ekonomi-hijau/d-7635644/hashim-bawa-pesan-prabowo-untuk-dunia-ekonomi-yang-hijau-dan-inklusif.

Friday, November 8, 2024

Mencapai Netralitas Karbon

Langkah Bersama untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Dunia kini menghadapi krisis iklim yang kian mengancam keberlanjutan hidup di Bumi. Salah satu solusi yang disepakati untuk melawan perubahan iklim adalah mencapai netralitas karbon atau carbon neutrality. Tujuan ini melibatkan upaya global untuk menyeimbangkan emisi gas rumah kaca dengan cara mengurangi emisi dan menyerap kembali karbon dioksida dari atmosfer. 


Apa itu Netralitas Karbon?

Netralitas karbon, atau sering disebut sebagai "nol emisi bersih," adalah kondisi di mana jumlah karbon yang dilepaskan ke atmosfer seimbang dengan jumlah karbon yang diserap kembali. Netralitas karbon bisa dicapai dengan dua cara utama:


Mengurangi Emisi Karbon

Ini melibatkan upaya untuk mengurangi emisi karbon dari aktivitas sehari-hari. Misalnya, mengganti bahan bakar fosil dengan energi terbarukan atau menggunakan teknologi yang lebih efisien.


Menyerap Kembali Karbon

Ini bisa dicapai melalui kegiatan seperti penanaman pohon, yang secara alami menyerap karbon dioksida, atau melalui teknologi penyerapan karbon yang semakin berkembang.

Mencapai netralitas karbon adalah tujuan ambisius yang membutuhkan kolaborasi dari semua pihak, mulai dari individu hingga negara. Banyak negara, termasuk Indonesia, telah menyatakan komitmennya untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050 atau 2060. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa suhu bumi tidak meningkat lebih dari 1,5 derajat Celsius, seperti yang direkomendasikan oleh Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).


Mengapa Netralitas Karbon Penting?

Pencapaian netralitas karbon sangat penting untuk menjaga stabilitas iklim bumi. Peningkatan suhu global yang tidak terkendali akan membawa dampak serius, termasuk cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut, dan kerugian ekonomi besar-besaran. Dengan mencapai netralitas karbon, kita bisa:


Mengurangi Risiko Bencana Alam

Cuaca ekstrem seperti banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan akan semakin sering terjadi jika suhu bumi terus meningkat. Menurunkan emisi karbon dapat membantu mengurangi intensitas dan frekuensi bencana ini.


Menjaga Keanekaragaman Hayati

Peningkatan suhu global juga berdampak pada ekosistem dan keanekaragaman hayati. Dengan menjaga keseimbangan iklim, kita turut melindungi flora dan fauna dari ancaman kepunahan.


Mendorong Pembangunan Ekonomi yang Berkelanjutan

Ekonomi yang ramah lingkungan menjadi lebih tahan terhadap risiko jangka panjang. Investasi pada energi terbarukan dan teknologi hijau menciptakan lapangan kerja baru dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil.


Langkah-langkah untuk Mencapai Netralitas Karbon

Ada berbagai langkah yang bisa kita ambil untuk membantu dunia mencapai netralitas karbon, baik sebagai individu, perusahaan, maupun sebagai kebijakan pemerintah.


1. Mendorong Penggunaan Energi Terbarukan

Energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan air, merupakan solusi utama untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merupakan sumber emisi karbon terbesar. Pemerintah bisa berperan dengan memberikan insentif dan kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan, sementara perusahaan dan individu bisa mulai beralih ke penggunaan energi terbarukan di rumah dan tempat kerja mereka.


2. Meningkatkan Efisiensi Energi

Efisiensi energi adalah cara lain yang efektif untuk mengurangi emisi. Misalnya, teknologi pencahayaan LED dan peralatan elektronik hemat energi mampu mengurangi konsumsi listrik yang dihasilkan dari sumber bahan bakar fosil. Individu dapat mengurangi penggunaan listrik di rumah, sementara perusahaan bisa melakukan audit energi untuk meningkatkan efisiensi di tempat kerja.


3. Menyokong Teknologi Penyerapan Karbon

Teknologi penyerapan karbon, seperti Carbon Capture and Storage (CCS), mulai dikembangkan untuk menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya di bawah tanah. Walaupun teknologi ini masih dalam tahap pengembangan, pendanaan penelitian dan implementasi teknologi ini merupakan langkah penting dalam mengurangi emisi karbon.


4. Reboisasi dan Perlindungan Hutan

Hutan adalah penyerap karbon alami yang sangat efektif. Dengan menanam pohon dan melindungi hutan yang ada, kita bisa menyerap karbon dioksida secara alami. Pemerintah bisa mendukung inisiatif reboisasi dan melindungi hutan dari penebangan liar. Individu dan komunitas juga bisa ikut serta dalam program penanaman pohon dan menjaga keberlangsungan hutan.


5. Mengurangi Limbah dan Meningkatkan Daur Ulang

Limbah, terutama yang berasal dari aktivitas industri dan rumah tangga, menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar, terutama dari proses pembakaran limbah. Dengan mengurangi jumlah sampah, mendaur ulang, dan meminimalkan penggunaan plastik, kita bisa mengurangi emisi karbon secara signifikan. Komunitas dan pemerintah bisa mendukung program daur ulang dan pengurangan sampah di setiap lini kehidupan.


6. Mendorong Perubahan Gaya Hidup

Setiap individu bisa berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon melalui perubahan gaya hidup, seperti:

  • Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
  • Mengurangi konsumsi daging dan beralih ke pola makan yang lebih berbasis tumbuhan, karena peternakan adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang signifikan.
  • Menghemat energi di rumah dengan mematikan peralatan yang tidak digunakan dan beralih ke perangkat hemat energi.


7. Menerapkan Sistem Perdagangan Karbon

Beberapa negara dan perusahaan telah menerapkan sistem perdagangan karbon, di mana mereka yang berhasil mengurangi emisi dapat menjual kredit karbon kepada pihak lain yang membutuhkan. Sistem ini memberikan insentif ekonomi bagi perusahaan untuk mengurangi emisi. Dengan memperluas perdagangan karbon, negara-negara dapat bekerja sama untuk mengurangi emisi secara lebih efektif.


8. Mendukung Kebijakan Lingkungan yang Berkelanjutan

Dukungan dari pemerintah dalam bentuk kebijakan sangat penting untuk mencapai netralitas karbon. Misalnya, kebijakan yang mewajibkan perusahaan untuk mematuhi standar emisi, memberikan insentif untuk energi terbarukan, dan mendukung infrastruktur transportasi ramah lingkungan. Partisipasi masyarakat dalam mendukung dan mengawasi kebijakan ini juga penting untuk memastikan implementasinya berjalan dengan baik.


Tantangan dalam Mencapai Netralitas Karbon

Meskipun upaya mencapai netralitas karbon sangat penting, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, antara lain:


Biaya Implementasi Teknologi

Banyak teknologi hijau yang memerlukan investasi awal yang besar, seperti panel surya, kendaraan listrik, dan teknologi penyerapan karbon. Pemerintah dan perusahaan perlu mencari cara untuk mengatasi kendala biaya ini, misalnya melalui insentif atau skema pembiayaan hijau.


Kurangnya Kesadaran Masyarakat

Tidak semua masyarakat memahami pentingnya pengurangan emisi karbon. Oleh karena itu, edukasi dan kampanye kesadaran perlu ditingkatkan agar lebih banyak orang menyadari peran mereka dalam mencapai netralitas karbon.


Perubahan Kebijakan yang Tidak Konsisten

Dalam beberapa kasus, perubahan kepemimpinan dapat mengakibatkan kebijakan lingkungan yang tidak konsisten. Agar upaya netralitas karbon bisa berhasil, kebijakan yang mendukung keberlanjutan perlu dijaga konsistensinya.


Ketergantungan pada Energi Fosil

Banyak negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber utama energi. Mengubah pola konsumsi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan memerlukan waktu dan usaha, terutama bagi negara-negara berkembang yang memiliki keterbatasan sumber daya.


Mengapa Kita Harus Berperan Aktif?

Setiap orang memiliki peran dalam upaya mencapai netralitas karbon. Jika setiap individu, perusahaan, dan negara berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon, kita bisa menciptakan dampak yang besar secara kolektif. Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita semua harus berperan aktif:


Tanggung Jawab Terhadap Bumi

Kita semua hidup di bumi yang sama, dan menjaga kelestariannya adalah tanggung jawab bersama. Dengan mengurangi jejak karbon, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan lestari bagi generasi mendatang.


Meningkatkan Kesehatan dan Kualitas Hidup

Polusi udara yang disebabkan oleh emisi karbon dapat berdampak negatif pada kesehatan. Dengan mengurangi emisi, kita bisa menciptakan udara yang lebih bersih dan lingkungan yang lebih sehat.


Ekonomi Berkelanjutan

Investasi dalam teknologi hijau dan energi terbarukan menciptakan peluang ekonomi baru dan mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas.

Mencapai netralitas karbon adalah tujuan yang penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kualitas hidup kita. Setiap langkah yang diambil, mulai dari penggunaan energi terbarukan hingga perubahan gaya hidup, berkontribusi terhadap upaya global untuk menstabilkan iklim dan menjaga kelestarian bumi. Walaupun terdapat berbagai tantangan, komitmen bersama antara individu, perusahaan, dan pemerintah bisa membawa kita pada masa depan yang lebih hijau.

Dengan bekerja sama, kita dapat membuat dunia ini lebih ramah lingkungan, bebas dari polusi, dan seimbang dalam hal ekologi. Mari mulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari untuk mendukung tercapainya netralitas karbon dan berikan kontribusi nyata untuk menjaga masa depan Bumi.

Dengan begitu, mari kita ambil peran aktif dalam perjalanan menuju netralitas karbon. Hanya dengan upaya kolektif, kita bisa melawan perubahan iklim dan menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Tuesday, November 5, 2024

Dampak Emisi Karbon

Mengapa Penting untuk Mengurangi Jejak Karbon Kita

Emisi karbon merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Setiap aktivitas manusia yang melibatkan pembakaran bahan bakar fosil — seperti transportasi, pembangkit listrik, dan industri — menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) dan gas rumah kaca lainnya. Emisi ini berakumulasi di atmosfer, menyebabkan suhu global meningkat, dan membawa dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi.


Apa Itu Emisi Karbon?

Emisi karbon merujuk pada pelepasan gas karbon dioksida (CO₂) ke atmosfer sebagai hasil dari aktivitas manusia, seperti:


Pembakaran Bahan Bakar Fosil

Aktivitas ini meliputi pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam yang digunakan untuk menghasilkan listrik, bahan bakar kendaraan, dan proses industri.


Penggunaan Lahan dan Deforestasi

Penebangan hutan dan perubahan penggunaan lahan menyebabkan pelepasan karbon dari pohon dan vegetasi, yang secara alami menyerap CO₂ dari atmosfer.


Proses Industri dan Pertanian

Beberapa proses industri seperti produksi semen dan baja juga menghasilkan emisi karbon. Selain itu, sektor pertanian, terutama peternakan, menghasilkan gas rumah kaca seperti metana (CH₄) yang memiliki dampak lebih besar dibandingkan CO₂.


Emisi karbon yang terus meningkat berdampak langsung pada suhu global dan lingkungan kita. Mengurangi emisi karbon adalah langkah penting untuk mencegah dampak buruk dari perubahan iklim.


Dampak Emisi Karbon pada Lingkungan

Pemanasan Global

Emisi karbon dioksida yang terperangkap di atmosfer menyebabkan peningkatan suhu rata-rata bumi, yang dikenal sebagai pemanasan global. Semakin tinggi kadar karbon dioksida, semakin besar pula efek rumah kaca yang dihasilkan, yang membuat suhu bumi terus meningkat. Pemanasan global telah meningkatkan suhu rata-rata bumi sekitar 1°C sejak masa pra-industri, dan angka ini terus meningkat jika emisi karbon tidak dikendalikan.


Cuaca Ekstrem dan Bencana Alam

Pemanasan global menyebabkan cuaca menjadi semakin ekstrem. Gelombang panas, kekeringan, badai, dan hujan lebat menjadi lebih sering dan intens. Bencana alam seperti banjir, kebakaran hutan, dan topan adalah beberapa contoh dampak cuaca ekstrem yang dipicu oleh pemanasan global. Bencana alam ini tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga mengakibatkan kehilangan nyawa, kerusakan properti, dan gangguan ekonomi.


Kenaikan Permukaan Laut

Pemanasan global menyebabkan pencairan es di Kutub Utara dan Selatan, yang berkontribusi pada kenaikan permukaan laut. Kenaikan permukaan laut mengancam daerah pesisir, menyebabkan erosi pantai, banjir, dan meningkatkan risiko bagi pulau-pulau kecil yang bisa tenggelam. Negara-negara yang memiliki populasi besar di wilayah pesisir sangat rentan terhadap dampak ini.


Gangguan Ekosistem dan Kepunahan Spesies

Banyak spesies yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan suhu dan kondisi lingkungan yang ekstrem. Hal ini mengakibatkan kepunahan beberapa spesies, terutama di ekosistem yang sensitif seperti terumbu karang dan hutan hujan tropis. Perubahan iklim juga mengganggu pola migrasi dan siklus hidup hewan, yang dapat merusak rantai makanan dan mengganggu ekosistem.


Dampak Emisi Karbon pada Kesehatan Manusia

Penyakit Pernapasan

Emisi karbon sering kali disertai dengan polutan udara seperti partikulat, ozon, dan nitrogen dioksida. Polusi udara ini menyebabkan berbagai masalah pernapasan, termasuk asma, bronkitis, dan penyakit paru-paru kronis. Orang yang tinggal di daerah perkotaan atau dekat dengan industri besar sering kali mengalami dampak buruk dari polusi udara yang dihasilkan oleh emisi karbon.


Penyakit yang Ditularkan Melalui Air dan Serangga

Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan menyebabkan peningkatan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air dan serangga. Misalnya, daerah yang lebih panas dan lembap lebih mudah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk yang membawa penyakit seperti malaria dan demam berdarah.


Gangguan Kesehatan Mental

Bencana alam yang terkait dengan perubahan iklim dapat menyebabkan trauma dan stres pada korban. Kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan bahkan orang yang dicintai akibat bencana alam dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).


Dampak Emisi Karbon pada Ekonomi

Biaya Pemulihan dari Bencana Alam

Bencana alam yang disebabkan oleh cuaca ekstrem membawa kerugian besar bagi perekonomian. Pemerintah dan masyarakat harus mengeluarkan biaya miliaran dolar untuk pemulihan infrastruktur, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi pasca-bencana. Biaya ini bisa terus meningkat jika emisi karbon tidak dikurangi.


Penurunan Produktivitas Pertanian

Perubahan iklim yang diakibatkan oleh emisi karbon berdampak pada produktivitas pertanian. Kekeringan yang berkepanjangan, perubahan pola hujan, dan bencana alam mengakibatkan gagal panen, yang menyebabkan kelangkaan pangan dan kenaikan harga. Negara-negara yang bergantung pada sektor pertanian akan menghadapi risiko ekonomi yang serius jika perubahan iklim tidak segera diatasi.


Penurunan Nilai Properti di Daerah Rawan Banjir

Kenaikan permukaan laut dan risiko banjir menyebabkan penurunan nilai properti di daerah pesisir dan kawasan rawan banjir. Hal ini membuat masyarakat dan investor enggan untuk membeli atau berinvestasi di wilayah tersebut, yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan pajak pemerintah daerah.


Pengeluaran Energi yang Lebih Tinggi

Dengan meningkatnya suhu global, kebutuhan akan pendingin udara dan sistem penyejuk udara semakin meningkat. Hal ini menyebabkan konsumsi energi yang lebih tinggi, yang pada akhirnya juga meningkatkan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis. Penggunaan energi yang lebih tinggi juga berarti emisi karbon yang lebih besar, yang memperparah masalah perubahan iklim.


Bagaimana Mengurangi Emisi Karbon?

Mengurangi emisi karbon membutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah, industri, hingga individu. Berikut beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk mengurangi emisi karbon:


Beralih ke Energi Terbarukan

Penggunaan energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, dan air, dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang merupakan penyebab utama emisi karbon. Dengan menggunakan energi terbarukan, kita dapat mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer.


Meningkatkan Efisiensi Energi

Menggunakan perangkat hemat energi, mematikan peralatan listrik yang tidak digunakan, dan menghemat penggunaan listrik dapat mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon. Banyak perangkat modern kini memiliki fitur hemat energi yang membantu kita mengurangi emisi.


Menggunakan Transportasi Ramah Lingkungan

Transportasi adalah salah satu penyumbang emisi karbon terbesar. Menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki bisa menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon. Selain itu, kendaraan listrik juga dapat membantu mengurangi emisi dari sektor transportasi.


Mengurangi Konsumsi Daging

Produksi daging, terutama daging sapi, memiliki jejak karbon yang tinggi. Mengurangi konsumsi daging dan beralih ke pola makan yang lebih berbasis tumbuhan dapat membantu mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari sektor pertanian.


Menanam Pohon

Pohon adalah penyerap karbon alami yang efektif. Dengan menanam pohon, kita dapat menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan membantu mengurangi efek rumah kaca. Selain itu, pohon juga membantu meningkatkan kualitas udara dan menyediakan habitat bagi banyak spesies.


Mengurangi Penggunaan Plastik

Plastik sekali pakai membutuhkan proses produksi yang menghasilkan emisi karbon, dan ketika dibuang, limbah plastik bisa memicu pelepasan gas rumah kaca di tempat pembuangan sampah. Menggunakan produk yang bisa didaur ulang atau produk ramah lingkungan dapat membantu mengurangi emisi karbon.


Dampak emisi karbon sangat luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan hingga kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Mengurangi emisi karbon adalah upaya yang mendesak untuk mencegah dampak buruk perubahan iklim dan melindungi generasi mendatang. Dengan melakukan langkah-langkah sederhana seperti menghemat energi, menggunakan transportasi ramah lingkungan, dan mengurangi penggunaan plastik, kita semua bisa berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dan menjaga bumi ini tetap layak huni.

Sunday, November 3, 2024

Mengenal Carbon Footprint

Mengapa Penting untuk Mengurangi Jejak Karbon Kita

Perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh dunia saat ini. Salah satu faktor utama yang memicu pemanasan global adalah peningkatan emisi karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya. Setiap aktivitas manusia yang menggunakan energi, transportasi, atau sumber daya alam menghasilkan emisi karbon, yang dikenal sebagai carbon footprint atau jejak karbon. Memahami dan mengurangi jejak karbon kita adalah langkah penting untuk menjaga lingkungan dan mewujudkan masa depan yang berkelanjutan.


Apa Itu Carbon Footprint?

Carbon footprint atau jejak karbon adalah total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan nitrogen dioksida (N₂O) adalah yang paling umum dan memiliki efek besar pada pemanasan global.

Jejak karbon biasanya diukur dalam ton CO₂ atau ekuivalen CO₂ per tahun, yang mencakup emisi dari berbagai aktivitas seperti:

  • Konsumsi listrik
  • Penggunaan transportasi
  • Produksi dan konsumsi makanan
  • Pengelolaan limbah
  • Aktivitas industri dan penggunaan produk tertentu

Dengan menghitung jejak karbon, kita dapat mengetahui seberapa besar kontribusi aktivitas kita terhadap pemanasan global dan mendapatkan gambaran mengenai perubahan apa yang bisa dilakukan untuk menguranginya.


Mengapa Penting untuk Mengurangi Carbon Footprint?

Mengurangi jejak karbon kita sangat penting, karena semakin banyak gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer, semakin besar pula dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan manusia. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pengurangan jejak karbon sangat krusial:


Mengurangi Pemanasan Global

Emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia meningkatkan suhu rata-rata bumi, yang menyebabkan pemanasan global. Dengan mengurangi jejak karbon, kita dapat membantu memperlambat laju pemanasan global dan dampak-dampak buruknya.


Mencegah Bencana Alam

Peningkatan suhu bumi menyebabkan cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang semakin sering terjadi. Mengurangi emisi gas rumah kaca membantu menstabilkan iklim dan mengurangi risiko bencana alam.


Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Pemanasan global dan kerusakan lingkungan menyebabkan banyak spesies kehilangan habitatnya. Dengan mengurangi jejak karbon, kita turut menjaga keberlangsungan hidup spesies lain yang bergantung pada ekosistem alami.


Menjaga Kualitas Udara

Banyak aktivitas yang menghasilkan karbon juga menyebabkan polusi udara, seperti penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil. Dengan mengurangi jejak karbon, kita dapat menjaga kualitas udara yang lebih bersih dan sehat.


Cara Menghitung Carbon Footprint

Ada berbagai cara untuk menghitung jejak karbon, mulai dari metode sederhana untuk individu hingga metode yang lebih kompleks untuk organisasi atau perusahaan. Beberapa faktor utama yang dihitung dalam jejak karbon antara lain:


Transportasi

Transportasi adalah salah satu sumber emisi karbon terbesar. Untuk menghitung emisi dari transportasi, kita perlu mempertimbangkan jarak yang ditempuh, jenis kendaraan, dan bahan bakar yang digunakan. Transportasi udara, mobil, dan kapal adalah yang paling banyak menyumbang emisi karbon.


Penggunaan Listrik dan Energi

Konsumsi listrik juga berkontribusi terhadap jejak karbon, terutama jika listrik dihasilkan dari bahan bakar fosil. Semakin besar konsumsi listrik, semakin besar pula emisi karbon yang dihasilkan. Pemanas, pendingin ruangan, lampu, dan peralatan elektronik lainnya adalah beberapa sumber utama penggunaan listrik di rumah.


Makanan

Produksi makanan, terutama daging, memiliki jejak karbon yang tinggi karena proses peternakan yang menghasilkan gas rumah kaca seperti metana. Untuk menghitung emisi dari makanan, perlu mempertimbangkan jenis makanan yang dikonsumsi, frekuensi, dan asal makanan tersebut.


Limbah

Limbah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah akan terurai dan menghasilkan metana. Selain itu, produksi dan pengangkutan barang yang kita konsumsi juga menghasilkan emisi karbon. Oleh karena itu, semakin banyak kita mengurangi dan mendaur ulang limbah, semakin kecil pula jejak karbon yang kita hasilkan.


Beberapa aplikasi dan situs web menyediakan kalkulator jejak karbon untuk memudahkan perhitungan bagi individu maupun perusahaan. Dengan menggunakan kalkulator ini, kita dapat memperoleh gambaran tentang emisi karbon dari berbagai aktivitas yang kita lakukan.


Langkah-Langkah untuk Mengurangi Carbon Footprint

Berikut adalah beberapa langkah efektif yang bisa kita ambil untuk mengurangi jejak karbon sehari-hari:


1. Menggunakan Transportasi Ramah Lingkungan

Transportasi adalah penyumbang besar dalam jejak karbon. Berikut beberapa cara untuk mengurangi emisi dari transportasi:

  • Menggunakan Transportasi Umum: Menggunakan bus, kereta api, atau angkutan umum lainnya dapat mengurangi jejak karbon per individu dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.
  • Bersepeda atau Berjalan Kaki: Selain ramah lingkungan, bersepeda dan berjalan kaki juga baik untuk kesehatan.
  • Beralih ke Kendaraan Listrik: Jika memungkinkan, beralihlah ke kendaraan listrik yang memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil.


2. Menghemat Penggunaan Listrik

Menghemat energi di rumah dan tempat kerja adalah salah satu cara paling efektif untuk mengurangi jejak karbon:

  • Gunakan Lampu LED: Lampu LED menggunakan lebih sedikit energi dan memiliki umur yang lebih panjang dibandingkan lampu konvensional.
  • Cabut Peralatan yang Tidak Digunakan: Mencabut peralatan yang tidak digunakan dapat menghemat energi dan mengurangi emisi.
  • Menggunakan Perangkat Hemat Energi: Pilihlah perangkat elektronik yang memiliki label hemat energi.


3. Mengurangi Konsumsi Daging

Produksi daging, terutama daging sapi, memiliki jejak karbon yang tinggi karena proses peternakan yang memproduksi metana. Mengurangi konsumsi daging atau menjalankan diet yang lebih berbasis tumbuhan dapat membantu mengurangi jejak karbon.


4. Mendaur Ulang dan Mengurangi Limbah

Membuang limbah sembarangan dapat meningkatkan jejak karbon, terutama jika limbah tersebut akhirnya terurai di tempat pembuangan sampah. Untuk itu, kita bisa:

  • Mendaur Ulang: Mendaur ulang kertas, plastik, dan logam membantu mengurangi emisi yang dihasilkan dari proses produksi barang baru.
  • Mengurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai: Plastik sekali pakai berkontribusi terhadap limbah yang sulit terurai dan meningkatkan emisi karbon.
  • Membeli Produk dengan Kemasan Ramah Lingkungan: Pilih produk dengan kemasan minimal atau kemasan yang mudah didaur ulang.


5. Menanam Pohon

Pohon adalah penyerap karbon alami yang sangat efektif. Dengan menanam pohon, kita bisa menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan membantu mengurangi efek gas rumah kaca. Selain itu, pohon juga membantu meningkatkan kualitas udara dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies.


6. Menggunakan Energi Terbarukan

Jika memungkinkan, beralihlah ke sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin. Saat ini, panel surya dapat dipasang di rumah dan mampu menghasilkan energi bersih yang mengurangi ketergantungan pada energi fosil.


7. Mendukung Kebijakan Lingkungan

Mengurangi jejak karbon memerlukan upaya kolektif. Kita bisa mendukung kebijakan pemerintah yang ramah lingkungan, seperti insentif untuk energi terbarukan, pengurangan emisi industri, dan regulasi transportasi ramah lingkungan. Kita juga bisa berpartisipasi dalam kampanye dan mendukung organisasi yang berfokus pada pelestarian lingkungan.


Tantangan dalam Mengurangi Carbon Footprint

Mengurangi jejak karbon bukan tanpa tantangan. Beberapa tantangan yang sering dihadapi adalah:

  • Ketergantungan pada Energi Fosil: Masih banyak negara yang bergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama.
  • Keterbatasan Teknologi: Meski teknologi hijau terus berkembang, masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses ke teknologi ini.
  • Kurangnya Kesadaran: Tidak semua orang memahami pentingnya mengurangi jejak karbon, sehingga edukasi dan sosialisasi sangat dibutuhkan.


Mengurangi carbon footprint adalah salah satu langkah nyata yang dapat kita lakukan untuk melawan perubahan iklim dan menjaga bumi agar tetap lestari. Mulai dari langkah-langkah sederhana seperti menghemat energi, mengurangi penggunaan plastik, hingga mendukung kebijakan hijau, setiap upaya kita memiliki dampak besar dalam jangka panjang.

Dengan bersama-sama mengurangi jejak karbon, kita bisa membantu memperlambat pemanasan global dan menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. Mari jadikan langkah kita sebagai bagian dari solusi untuk bumi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Sunday, October 27, 2024

Tekan Emisi Karbon, Perusahaan Ini Izinkan Karyawannya Masuk 3 Kali Seminggu

BAT Indonesia berkomitmen mendukung upaya dekarbonisasi lewat sejumlah program. Eva Sulistiawaty, Head of Sustainability BAT Indonesia menjelaskan, salah satu yang didorong adalah melalui digitalisasi untuk tujuan efisiensi energi di level manufaktur perusahaan.

"Ini kita benar-benar melihat cahaya matahari masuknya sebelah mana, duduknya dimana. Jadi kita mengurangi energi untuk misalnya lampu, terlalu banyak lampu jadi lebih ke natural light," katanya dalam The Bangun Bangsa Conference 2024, Sustainability in Action: Accelerating Decarbonisation Journey in Asia Pacific di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (25/10/2024).

Perusahaan juga membolehkan karyawannya bekerja secara fleksibel dan masuk 3 hari dalam satu minggu. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi banyak emisi dari pergerakan di jalan raya.

"Flexible working place, well by regulation ya di BAT itu teman-teman diperbolehkan ke kantor, boleh nih cuma 3 hari dalam 1 minggu. Jadi itu mengurangi banyak emisi yang dihasilkan untuk commuting ya," imbuhnya.

Eva juga menyebut BAT sudah mengimplementasikan solar panel 3,5 MW dan beroperasi 100%, serta mendorong penggunaan kendaraan listrik dan hybrid di perusahaan.

"Nah ini lebih ke contoh aja ya, kita udah install 3.5 megawatt, installed and operated 100%, terus kita udah propose untuk hybrid vehicle sama EV," tuturnya.

Menurut Eva, beragam upaya mendukung dekarbonisasi sudah berjalan sejak tahun 2019. Upaya tersebut berbuah manis dengan adanya penurunan emisi karbon mencapai 82% bagi perusahaan di tahun 2023. Tahun 2024 ditargetkan BAT bisa menekan emisi karbon mencapai 83%, dan mencapai target net zero emission di tahun 2050.

"Nah untuk inisiatif dekarbonisasi sekarang, di 2023 secara keseluruhan Indonesia, dari operasi yang keseluruhan kami bisa menurunkan 82%, jadi di atas 80% karbon emisi yang dihasilkan dari tempat kami, direct operation kami scope 1 dan 2. Nah untuk 2024 kami lihat itu bisa dikurangi lagi dari yang cuma 82% kita kurangi lagi 1% dari situ agar bisa menginisiasi mencapai target kami net zero di 2050," tutupnya.


Sumber :

https://finance.detik.com/ekonomi-hijau/d-7606144/tekan-emisi-karbon-perusahaan-ini-izinkan-karyawannya-masuk-3-kali-seminggu.

Saturday, October 26, 2024

Genjot Bursa Karbon, Menteri LH Kebut Implementasi Batas Atas Emisi Pelaku Usaha


Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, akan mempercepat terselenggaranya nilai ekonomi karbon di Indonesia. Kebijakan itu salah satunya dengan menerapkan batas atas emisi yang dikeluarkan pelaku usaha. 

"Kita akan tetapkan segera. Kita tidak mau terlalu berleha-leha," ujar Hanif usai Serah Terima Jabatan Menteri Lingkungan Hidup, di Jakarta, Selasa (22/10). Jika ketentuan tersebut diterapkan, setiap pelaku hanya diperkenankan mengeluarkan jejak emisi karbon di bawah ketentuan tersebut. 

Pelaku usaha bisa membeli sertifikat karbon di Bursa Karbon Indonesia untuk mengimbangi atau mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) yang dikeluarkan oleh kegiatan usahanya. Hanif mengatakan, saat ini perdagangan di Bursa Karbon Indonesia cenderung berjalan di tempat atau stagnan. Nilai perdagangan di Bursa Karbon Indonesia pun masih sangat kecil.

Menurut dia potensi ekonomi karbon sebenarnya sangat besar. Pemerintah akan mengambil langkah-langah strategis untuk mengimpmentasikan nilai ekonomi kabon.

Karena itu, dia akan melakukan evaluasi lebih rinci mengenai perdagangan karbon di Indonesia. Beberapa kebijakan yang akan didorong pemerintah adalah carbon offset atau program yang memungkinkan perorangan dan perusahaan untuk berpartisipasi dalam investasi proyek lingkungan global. Selain itu, pemerintah juga mendorong nilai perdagangan karbon.

Menurut Hanif, kepastian upaya pelestarian lingkungan hidup menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pasalnya, pelestarian lingkungan hidup menjamin daya dukung daya alam yang sehat untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan pencapaian target pembangunan berkelanjutan, percepatan pencapaian target net zero emission (NZE), dan menurunkan jejak karbon. 

Pemerintah juga akan memanfaatkan teknologi bioplastik dalam kehidupan sehari-hari Sebagaimana diketahui, Bioplastik dikembangkan sebagai alternatif plastik konvensional yang berbahan baku minyak bumi. Bioplastik adalah material plastik yang dibuat dari tanaman atau material biologis lain, dan bukan dari minyak bumi. Bioplastik bisa dibuat dari lemak dan minyak sayuran, tepung jagung, gandum, serbuk kayu, dan sampahnya dapat diurai oleh mikroba.

Sumber :
https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/investasi-hijau/67175e879332b/genjot-bursa-karbon-menteri-lh-kebut-implementasi-batas-atas-emisi-pelaku-usaha

Friday, October 25, 2024

Tumbuhan dan Hutan Hampir Tak Menyerap Karbon Dioksida Tahun Lalu, Pertanda Apa?

Laut dan hutan di permukaan Bumi membantu menyerap sekitar setengah dari emisi yang dihasilkan manusia. Tumbuhan seperti fitoplankton (tumbuhan mikroskopis air) dan pepohonan secara alami mengisap karbon dioksida dari atmosfer melalui proses yang disebut fotosintesis. Namun, seiring memanasnya Bumi, para ilmuwan semakin khawatir proses penting untuk keberlangsungan kehidupan ini dapat terganggu.

Hutan tidak menyerap karbon dioksida pada 2023 Diberitakan The Guardian, Senin (14/10/2024), berdasarkan data awal dari tim peneliti internasional, jumlah karbon yang diserap menurun pada 2023, tahun terpanas yang pernah tercatat.

Hasil akhir studi pun menunjukkan, hutan, tumbuhan, dan tanah hampir tidak menyerap karbon dioksida pada tahun lalu. Dengan kata lain, pada 2023, beberapa tempat penyerapan karbon alami di Bumi tampaknya berhenti berfungsi. Bukan hanya di darat, kondisi serupa juga dilaporkan terlihat di lautan. 

Studi pada 2023 menemukan, gletser Greenland dan lapisan es Arktik mencair lebih cepat, yang dapat menghambat kemampuan laut untuk menangkap dan menggunakan karbon. Bagi zooplankton (binatang mikroskopis laut) pemakan fitoplankton atau alga, mencairnya es laut membuat mereka terpapar lebih banyak sinar Matahari. Menurut para ilmuwan, hal tersebut dapat membuat makhluk laut ini berada di kedalaman lebih lama, yang pada akhirnya menyebabkan daur karbon tidak maksimal.


Aktivitas manusia memicu penyerap karbon berhenti berfungsi

Di sisi lain, dikutip dari Futurism, Selasa (15/10/2024), beberapa aktivitas manusia terus menghasilkan karbon dioksida yang mencemari atmosfer. Ketergantungan manusia yang masih sangat besar pada bahan bakar fosil dan industri memberikan tekanan besar bagi penyerap karbon alami untuk membersihkannya. 

Belum lagi, kegiatan menebang hutan, kian mengurangi jumlah pohon sebagai penyerap karbon dioksida alami di atmosfer. Seiring meningkatnya emisi manusia, jumlah karbon dioksida yang diserap oleh alam juga meningkat. Namun, keseimbangan ini mulai bergeser, salah satunya didorong oleh meningkatnya suhu panas. Normalnya, saat fotosintesis di siang hari, tanaman akan membutuhkan karbon dioksida, kemudian mengeluarkan oksigen sebagai produknya.

Karbon dioksida tidak dilepaskan selama fotosintesis. Akan tetapi, sejumlah kecil gas ini dikeluarkan baik siang maupun malam hari sebagai produk respirasi seluler atau pernapasan. Pemanasan global, penggundulan hutan, dan cuaca tidak menentu mengacaukan keseimbangan fotosintesis dan pernapasan. Alih-alih menyerap karbon untuk fotosintesis, tanaman justru mengeluarkan karbon lebih banyak ke atmosfer. 

Meski Bumi menunjukkan ketahanan dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa dari waktu ke waktu, penelitian terbaru dapat membuka titik kritis yang perlu dihadapi manusia. "Kita terbuai dalam zona nyaman, kita tidak dapat benar-benar melihat krisis," kata Direktur Potsdam Institute for Climate Impact Research, Johan Rockstrom. Bahkan, kini, hanya satu hutan hujan tropis utama, yakni Cekungan Kongo, yang dilaporkan tetap menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskan ke atmosfer.

Penyerap karbon alami akan berkurang di masa depan Kabar buruknya, penyerap karbon alami seperti pohon-pohon di darat maupun fitoplankton di laut tergolong rumit dan sangat sulit diukur. Model atau pola secara keseluruhan menunjukkan, baik penyerap karbon di darat maupun lautan akan berkurang di masa depan sebagai akibat dari perubahan iklim. 

"Tetapi ada pertanyaan, seberapa cepat itu akan terjadi," ujar Kepala kelompok sains kelautan dan atmosfer di Exeter University, Inggris, Andrew Watson. Watson menambahkan, sebagian besar model cenderung menunjukkan kondisi ini berlangsung agak lambat selama 100 tahun ke depan atau lebih. Namun, sebagian besar model tersebut tidak memasukkan faktor-faktor yang tampaknya penting, seperti kebakaran hutan dan penggundulan hutan yang semakin parah. 

Terlepas dari hal tersebut, temuan ini menggambarkan keruntuhan alam sebagai tanda yang menakutkan dari pemanasan global. Terlebih, masalah tentang merosotnya penyerapan karbon dioksida juga tidak pernah benar-benar dipikirkan dengan baik di bidang politik dan pemerintahan. "Apa yang terjadi jika penyerap karbon alami, yang sebelumnya mereka andalkan, berhenti berfungsi karena iklim berubah?” kata Watson.


Sumber :

https://www.kompas.com/tren/read/2024/10/24/050000965/tumbuhan-dan-hutan-hampir-tak-menyerap-karbon-dioksida-tahun-lalu-pertanda?page=all.

Strategi Pengelolaan Karbon Biru di Indonesia

9 Juli 2021 , dibaca 6915 kali. Nomor: SP. 217/HUMAS/PP/HMS.3/07/2021 Ekosistem pesisir di Indonesia terutama mangrove, padang lamun dan kaw...