Showing posts with label Global Warming. Show all posts
Showing posts with label Global Warming. Show all posts

Sunday, December 8, 2024

Ngerinya Korupsi di Kehutanan: Dulu Suap, Kini Manipulasi Regulasi

Direktorat Monitoring KPK Sulistyanto menyoroti korupsi dan Tata Kelola Sumber Daya Alam (SDA), khususnya kehutanan, dan bagaimana tata kelola lingkungan dipengaruhi oleh aktor-aktor korupsi. Dia berpendapat pola korupsi di sektor kehutanan bergeser dari suap langsung menuju penguasaan oleh aktor-aktor yang memegang kendali atas keputusan penting.

Pendapat itu diungkapkan Sulistyanto pada diskusi bertajuk "Korupsi dan Tata Kelola Hutan Indonesia" di Jakarta, Sabtu (23/11/2024). Dia menegaskan korupsi di sektor kehutanan awalnya dominan dalam bentuk suap, tetapi kini melibatkan manipulasi regulasi oleh aktor-aktor yang memiliki posisi sebagai pengambil keputusan dan pengendali.

"Kita tahu kasus korupsi di kehutanan melibatkan aktor yang mempunyai kepentingan, ternyata aktor terbanyak para pelaku usaha industri pupuk kertas master lainnya, kami ini memenjarakan pejabat yang melalukan korupsi tapi karena jaringan itu tetap eksis maka tetap eksis," kata Sulistyanto.

Dalam pemaparan diskusi, Sulistyanto mengungkapkan, data menunjukkan bahwa satu kasus korupsi di sektor kehutanan di Riau melibatkan jaringan korupsi sebanyak 201 aktor. Dia menjelaskan bahwa banyak pengeluaran yang tidak semestinya terjadi akibat praktik korupsi yang melibatkan jaringan luas.

"Hubungan informal itu memiliki pengaruh besar dalam jaringan pembenahan sistem 70%, pembiayaan formal, biasanya biaya hubungan baik ini memfasilitasi korupsi itu bekerja pada jaringan itu," kata Sulistyanto.


Kok Bisa Tambang di TN?

Sementara itu, Prof. Bambang Hero S, Guru Besar IPB dan Direktur Regional Forest Fire Management Resource Center Southeast Asia, menyoroti peran para aktor di lapangan yang secara terang-terangan memanfaatkan ketidakjelasan status kawasan hutan. Ketidakjelasan status itu dibiarkan berlarut-larut, sehingga membuka peluang bagi manipulasi koruptor. Bahkan, dalam beberapa kasus, tambang ilegal ditemukan di taman nasional yang seharusnya dilindungi.

Itu terjadi karena regulasi alih fungsi lahan yang seharusnya dijalankan malah diabaikan, menjadikan aktivitas tersebut ilegal. Bambang juga menambahkan bahwa ketidakaktifan regulator sering kali menghambat tugas tim ahli dan penegak hukum dalam mengatasi persoalan ini.

"Kawasan hutan pertama adalah ketidakjelasan status yang dibiarkan dan berlarut-larut, kawasan hutan fisiknya semak belukar, alang-alang, tetap disebut sebagai kawasan hutan, meskipun kemudian tidak ada secara fisik pohon di sana sehingga di lapangan semua ini dibuat kabur. Misalnya, di beberapa lokasi justru tambang itu adanya di taman nasional, jadi mestinya yang seperti itu tidak terjadi," kata Bambang.

"Keterlibatan pejabat dari kementerian terkait bagi yg sudah terbiasa pemanfaatan hutan itu simple sekali, contoh menanam lahan dengan kawasan hutan itu harus ada alih fungsi jika kalian tanam tidak ada alih fungsi makan bersifat illegal," Bambang menambahkan.


Sumber :

https://travel.detik.com/travel-news/d-7655420/ngerinya-korupsi-di-kehutanan-dulu-suap-kini-manipulasi-regulasi.

Friday, December 6, 2024

Tanda Kiamat Sudah Sangat Jelas, Ilmuwan Tunjuk Laut Panas dan Sapi

Seekor sapi terjebak di lumpur dasar kering bendungan Las Lajas akibat kekeringan parah, di Buenaventura, negara bagian Chihuahua, Meksiko, 23 Agustus 2024. Kerusakan Bumi kian parah. Bahkan banyak tanda-tanda vital yang ditemui jauh lebih buruk dari yang tercatat sebelumnya.

Sebuah laporan menyebutkan 25 dari 35 tanda vital tahun lalu lebih buruk dari yang tercatat sebelumnya. Tanda vital Bumi menggambarkan sinyal "kiamat" perubahan iklim akibat pemanasan global. Ini termasuk terkait kadar karbon dioksida dan populasi manusia.

Laporan itu juga menyebutkan suhu permukaan Bumi dan laut telah mencapai titik tertingginya. Ini terjadi karena pembakaran bahan bakar fosil yang mengalami peningkatan. Populasi manusia dan jumlah sapi serta domba meningkat, masing-masing 200 ribu dan 170 ribu ekor per hari. Akibatnya, rekor emisi gas rumah kaca pecah berkali-kali.

Para ilmuwan juga mencatat pemanasan global mengakibatkan cuaca ekstrem terjadi di seluruh dunia. Mulai dari badai hingga kejadian panas ekstrem.

"Kita berada di tengah pergolakan iklim yang membahayakan kehidupan Bumi yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya," kata pemimpin kelompok ilmuwan itu, William Ripple dari Oregon State University, dikutip dari The Guardian, Selasa (26/11/2024).

"Kelebihan ekologi, mengambil lebih dari yang diberikan Bumi, mendorong planet ini dalam kondisi iklim mengancam dari aapun yang disaksikan orang prasejarah," ucapnya menambahkan.

Dia juga mengatakan dampak dari perubahan iklim pada manusia. Yakni jutaan orang bahkan mencapai miliaran orang berpotensi mengungsi, yang pada akhirnya bisa menyebabkan ketidakstabilan geopolitik yang lebih besar.

Di tengah situasi ini, penggunaan batu bara, minyak dan gas masih mendominasi tahun lalu. Ini terjadi meski di sisi lain ada pertumbuhan sebesar 15% pada penggunaan energi angin dan Matahari. Para ilmuwan menilai tindakan tegas bisa melindungi Bumi dan mencegah manusia lebih menderita lagi. Pada akhirnya memastikan generasi berikutnya hidup dalam dunia yang lebih layak huni.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20241126103620-37-591154/tanda-kiamat-sudah-sangat-jelas-ilmuwan-tunjuk-laut-panas-dan-sapi

Wednesday, December 4, 2024

PBB Ungkap RI Dalam Bahaya Besar, Beberkan Fakta Mengerikan

Global warming atau pemanasan global mengancam daerah-daerah di Indonesia. Fenomena alam yang ditandai kenaikan suhu bumi itu memicu kenaikan muka air laut lantaran mencairnya es di kutub bumi.

Penemuan ini bahkan menjadi perhatian khusus dan PBB memberikan peringatan khusus Indonesia. Hal tersebut terungkap dari laporan lembaga PBB, Badan Meteorologi Dunia (WMO) yang bertajuk State of the Climate in Asia 2023.

Laporan itu menganalisa bencana yang terjadi 2023 lalu. Mereka menyoroti bahwa laju percepatan indikator perubahan iklim utama seperti suhu permukaan, pencairan gletser, dan kenaikan permukaan air laut.

Asia disebut masih menjadi wilayah yang paling banyak dilanda masalah alam di dunia akibat cuaca dan iklim. Benua ini mengalami pemanasan lebih cepat dari rata-rata global dengan tren meningkat hampir dua kali lipat sejak periode 1961-1990.

"Kesimpulan dari laporan ini sangat menyadarkan kita," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dalam keterangan yang diterima CNBC Indonesia, beberapa waktu lalu.

WMO mencatat, banyak negara di Asia mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat pada tahun 2023, bersamaan dengan kondisi ekstrim, mulai dari kekeringan dan gelombang panas hingga banjir dan badai.

Perubahan frekuensi iklim dan tingkat keparahan peristiwa tersebut, berdampak besar pada masyarakat, ekonomi, dan yang terpenting, kehidupan manusia dan lingkungan tempat makhluk hidup tinggal.

Pada tahun 2023, total 79 bencana yang terkait dengan bahaya hidrometeorologi dilaporkan di Asia, sebagaimana dilaporkan pula oleh Emergency Events Database. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80% terkait dengan peristiwa banjir dan badai, dengan lebih dari 2.000 korban jiwa dan sembilan juta orang terkena dampak langsung.

Panas ekstrem juga menjadi laporan lain. Meskipun risiko kesehatan yang ditimbulkan semakin meningkat, penduduk Asia masih beruntung karena tidak ada kematian yang dilaporkan.

"Sekali lagi, di tahun 2023, negara-negara yang rentan terkena dampak yang tidak proporsional. Sebagai contoh, topan tropis Mocha, topan terkuat di Teluk Benggala dalam satu dekade terakhir, menghantam Bangladesh dan Myanmar," jelas Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia dan Pasifik (ESCAP), Armida Salsiah Alisjahbana yang menjadi mitra dalam penyusunan laporan ini.

"Peringatan dini dan kesiapsiagaan yang lebih baik telah menyelamatkan ribuan nyawa," ujarnya.

Sementara itu, dalam laporan yang sama juga dimuat bagaimana kenaikan permukaan laut dari Januari 1993 hingga Mei 2023. State of the Climate in Asia 2023 juga memberikan data indikasi kenaikan air laut yang meliputi wilayah Indonesia.

Tercatat, banyak area mengindikasikan Global Mean Sea Level (GMSL) di atas rata-rata global yakni 3,4 atau ± 0,33 mm per tahun. Indonesia sendiri berada di wilayah berwarna kuning yang mengindikasikan peringatan.

Sebelumnya, kajian proyeksi USAID di 2016), menyebutkan kenaikan air laut akan menenggelamkan 2.000 pulau kecil pada tahun 2050. Ini berarti terdapat 42 juta penduduk berisiko kehilangan tempat tinggalnya.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/news/20241124081236-4-590618/pbb-ungkap-ri-dalam-bahaya-besar-beberkan-fakta-mengerikan-ini

Wednesday, November 6, 2024

Berapa Banyak Kita Berkontribusi pada Pemanasan Global?

Fakta dan Cara Menguranginya

Pemanasan global adalah salah satu masalah terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Suhu bumi yang terus meningkat disebabkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO₂), metana (CH₄), dan nitrogen dioksida (N₂O). Setiap hari, berbagai aktivitas yang kita lakukan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global, mulai dari penggunaan kendaraan pribadi hingga konsumsi listrik dan pola makan.


Apa Itu Pemanasan Global dan Bagaimana Kita Berkontribusi?

Pemanasan global terjadi karena peningkatan suhu rata-rata bumi akibat akumulasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas rumah kaca membentuk lapisan yang menangkap panas dari matahari dan membuat suhu bumi meningkat. Beberapa sumber utama gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia antara lain:


Transportasi

Kendaraan bermotor, pesawat terbang, dan kapal laut adalah penyumbang utama emisi karbon dioksida. Kendaraan pribadi yang menggunakan bahan bakar fosil melepaskan sejumlah besar CO₂ ke atmosfer, yang berkontribusi langsung pada pemanasan global.


Produksi Energi

Banyak negara masih mengandalkan pembangkit listrik yang menggunakan batu bara, minyak, dan gas alam, yang merupakan sumber emisi karbon besar. Konsumsi listrik di rumah tangga, gedung perkantoran, dan industri menyumbang emisi karbon yang signifikan.


Pertanian dan Peternakan

Sektor pertanian dan peternakan menghasilkan gas rumah kaca seperti metana dan nitrogen dioksida, yang memiliki efek pemanasan lebih besar daripada karbon dioksida. Peternakan sapi, misalnya, menghasilkan metana dari proses pencernaan hewan, sementara pertanian menggunakan pupuk yang menghasilkan nitrogen dioksida.


Penggunaan Lahan dan Deforestasi

Penebangan hutan untuk lahan pertanian dan pembangunan perkotaan menghilangkan kemampuan hutan untuk menyerap karbon. Deforestasi mengurangi jumlah pohon yang bisa menyerap karbon dioksida, sehingga gas ini terlepas ke atmosfer dan meningkatkan pemanasan global.


Produksi dan Pengolahan Limbah

Limbah padat dan limbah cair, terutama yang berakhir di tempat pembuangan akhir, menghasilkan gas metana saat terurai. Selain itu, limbah plastik yang dibakar atau terdegradasi juga menghasilkan emisi gas rumah kaca.


Berapa Banyak Kontribusi Individu dalam Pemanasan Global?

Rata-rata, individu di negara maju menghasilkan sekitar 4 hingga 8 ton karbon dioksida setiap tahunnya dari aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan kendaraan pribadi, konsumsi listrik, dan pola makan. Berikut adalah beberapa faktor utama yang memengaruhi kontribusi individu terhadap pemanasan global:


Transportasi Pribadi

Penggunaan mobil pribadi rata-rata menghasilkan sekitar 2 hingga 4 ton CO₂ per tahun, tergantung pada jenis bahan bakar dan frekuensi penggunaan kendaraan. Semakin sering seseorang menggunakan mobil atau pesawat, semakin besar pula kontribusi mereka terhadap emisi karbon.


Penggunaan Energi di Rumah

Konsumsi listrik untuk pemanas, pendingin ruangan, dan peralatan rumah tangga menghasilkan emisi karbon dari pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil. Rumah tangga rata-rata dapat menghasilkan hingga 2 ton CO₂ setiap tahunnya hanya dari penggunaan listrik.


Pola Makan

Produksi daging, terutama daging sapi, memiliki jejak karbon yang sangat tinggi. Setiap kilogram daging sapi yang dikonsumsi menghasilkan sekitar 27 kilogram CO₂. Mengurangi konsumsi daging atau beralih ke pola makan nabati bisa secara signifikan mengurangi jejak karbon pribadi.


Konsumsi Barang dan Limbah

Setiap produk yang kita beli memiliki jejak karbon, mulai dari produksi hingga pengiriman. Selain itu, limbah yang kita hasilkan, terutama plastik dan sampah organik, juga menyumbang emisi gas rumah kaca.


Dampak dari Kontribusi Kita Terhadap Pemanasan Global

Kontribusi individu, jika digabungkan dalam skala global, menghasilkan jumlah emisi karbon yang sangat besar. Berikut adalah beberapa dampak utama dari kontribusi kita terhadap pemanasan global:


Cuaca Ekstrem

Pemanasan global meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti gelombang panas, banjir, dan kekeringan. Cuaca ekstrem ini tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga mengancam kehidupan manusia dan habitat alam.


Kenaikan Permukaan Laut

Pemanasan global menyebabkan es di kutub mencair, yang mengakibatkan kenaikan permukaan laut. Hal ini mengancam kota-kota pesisir dan pulau-pulau kecil yang bisa tenggelam dalam beberapa dekade mendatang.


Gangguan Ekosistem dan Kehidupan Satwa Liar

Perubahan iklim menyebabkan habitat alami mengalami perubahan, yang membuat banyak spesies hewan kesulitan untuk bertahan hidup. Beberapa spesies bahkan mengalami ancaman kepunahan karena tidak dapat beradaptasi dengan perubahan suhu dan lingkungan.


Risiko Terhadap Kesehatan Manusia

Polusi udara yang dihasilkan dari emisi karbon menyebabkan masalah kesehatan, seperti asma, bronkitis, dan penyakit jantung. Selain itu, perubahan iklim juga meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air dan serangga, seperti malaria dan demam berdarah.


Ketidakstabilan Ekonomi

Cuaca ekstrem dan perubahan pola cuaca berdampak langsung pada sektor ekonomi, terutama pertanian, pariwisata, dan perikanan. Ketidakpastian iklim ini dapat menyebabkan ketidakstabilan ekonomi di banyak negara, terutama negara berkembang yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.


Langkah-langkah yang Dapat Diambil untuk Mengurangi Kontribusi Kita

Meskipun tantangan yang kita hadapi sangat besar, setiap individu memiliki peran dalam mengurangi pemanasan global. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat kita ambil:


1. Menggunakan Transportasi Ramah Lingkungan

Beralih dari kendaraan pribadi berbahan bakar fosil ke transportasi umum, sepeda, atau berjalan kaki dapat mengurangi emisi karbon kita. Kendaraan listrik atau hibrida juga dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan.


2. Menghemat Energi di Rumah

Menggunakan perangkat hemat energi, seperti lampu LED dan peralatan elektronik dengan label hemat energi, dapat mengurangi konsumsi listrik. Mematikan peralatan listrik saat tidak digunakan juga merupakan cara sederhana untuk mengurangi jejak karbon.


3. Mengurangi Konsumsi Daging dan Produk Hewani

Mengurangi konsumsi daging, terutama daging sapi, dapat secara signifikan mengurangi jejak karbon kita. Pola makan nabati atau diet fleksitarian, di mana kita hanya sesekali mengonsumsi daging, dapat membantu menurunkan emisi dari sektor peternakan.


4. Mendaur Ulang dan Mengurangi Limbah

Mendaur ulang produk seperti kertas, plastik, dan logam membantu mengurangi jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan sampah. Menggunakan produk yang dapat didaur ulang dan mengurangi konsumsi plastik juga sangat membantu.


5. Menanam Pohon dan Mendukung Reboisasi

Pohon adalah penyerap karbon alami yang sangat efektif. Dengan menanam pohon atau mendukung program reboisasi, kita bisa membantu menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan mengurangi efek rumah kaca.


6. Mendukung Energi Terbarukan

Jika memungkinkan, beralihlah ke sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin. Banyak rumah tangga kini dapat memasang panel surya sebagai sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada listrik berbahan bakar fosil.


7. Meningkatkan Kesadaran dan Edukasi

Edukasi dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya mengurangi emisi karbon adalah langkah yang sangat penting. Dengan meningkatkan pemahaman masyarakat, kita bisa mendorong lebih banyak orang untuk ikut serta dalam upaya mengurangi pemanasan global.


Setiap tindakan yang kita lakukan berkontribusi pada pemanasan global, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan memahami sumber emisi karbon dari aktivitas kita sehari-hari, kita dapat membuat perubahan kecil namun berarti untuk mengurangi jejak karbon kita. Meskipun tantangan yang dihadapi sangat besar, tindakan kolektif dari individu di seluruh dunia dapat membawa perubahan yang signifikan.

Mari kita mulai dari hal-hal sederhana seperti menghemat energi, menggunakan transportasi umum, mengurangi konsumsi daging, dan mendukung sumber energi terbarukan. Dengan langkah-langkah ini, kita bisa mengurangi kontribusi kita terhadap pemanasan global dan membantu mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang.

Dengan bertindak sekarang, kita dapat menjaga bumi ini tetap layak huni dan berkelanjutan untuk generasi yang akan datang.

Strategi Pengelolaan Karbon Biru di Indonesia

9 Juli 2021 , dibaca 6915 kali. Nomor: SP. 217/HUMAS/PP/HMS.3/07/2021 Ekosistem pesisir di Indonesia terutama mangrove, padang lamun dan kaw...